No Widgets found in the Sidebar
Tim Forensik
Tim Forensik

Tim Forensik, Diketahui Sejumlah catatan signifikan terkait kondisi jenazah Brigadir J atau Yoshua Hutabarat sudah di kantongi oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Hari ini, Komnas HAM bakal memanggil tim forensik yang melakukan autopsi terhadap jenazah Brigadir J.

Pemanggilan tim forensik tersebut untuk mengonfirmasi sejumlah hal terkait proses dan hasil autopsi Brigadir J yang di lakukan tim forensik.

“Kami besok (hari ini) Senin, siang jam 1 (13.00 WIB) sampai selesai, meminta keterangan Dokkes yang melakukan autopsi,

di kantor Komnas HAM,” kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, Minggu (24/7/2022) malam.

Namun demikian, Anam tidak memerinci apa saja yang akan di tanyakan dalam pemanggilan tersebut.

Anam menyebut agendanya terkait autopsi jenazah Brigadir J dan prosedur yang telah di lakukan.

Di lansir dari detikNews, sebelumnya Komnas HAM sudah mengantongi data-data kondisi jenazah Brigadir J.

Catatan signifikan yang di kantongi Komnas HAM tersebut juga telah di di skusikan dengan kedokteran forensik yang menurut Komnas HAM independen.

“Tim telah memiliki catatan signifikan yang menunjukkan luka ini akibat apa, karakternya apa, konstrain waktu luka itu kapan terjadi,

“Semua info terkait jenazah dan prosedur,” ucap Tim Forensik.

dan kira-kira luka itu di akibatkan oleh apa. Itu kami sudah punya catatan yang lumayan,” kata Choirul Anam

melalui YouTube Komnas HAM pada Jumat (23/7/2022). Meski sudah mengantongi catatan signifikan tersebut,

Anam menyebut Komnas HAM belum bisa membuat kesimpulan lantaran harus melengkapi data agar penyelidikan imparsial.

“Tapi kalau ditanya kesimpulannya apa, kami belum bisa, tapi kami punya catatan signifikan terhadap posisi tubuh luka-luka

yang ada di jenazah Brigadir J. Belum bisa kami simpulkan sekarang dan nggak bisa juga di simpulkan sekarang karena belum imparsial,” ujarnya.

Tim Forensik Autopsi Ulang Jasad Brigadir J

Sementara itu, jasad Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J akan di autopsi ulang. Proses pengangkatan jenazah

Baca Juga  Tunda Keputusan Tentang Crypto Di GST

atau ekshumasi akan di lakukan pada Rabu besok. “Sesuai dengan perintah Bapak Kapolri untuk pelaksanaan ekshumasi

harus di laksanakan sesegera mungkin. Dari hasil komunikasi Pak Dir (Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian) dengan pihak pengacara,

dengan Ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia dan para pakar forensik, di putuskan pelaksanaan ekshumasi di Jambi akan di laksanakan pada hari Rabu besok,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Jakarta, Sabtu (23/7/2022).

Dedi mengatakan tim forensik akan berangkat pada Selasa (26/7). Setelah itu, ekshumasi akan di lakukan pada Rabu (27/7).

“Jadi tim akan berangkat hari Selasa, Rabu akan kita laksanakan ekshumasi dengan menghadirkan para pihak, dan tentunya pihak-pihak yang expert di bidangnya,” ungkapnya.

Keluarga Brigadir J Sempat Takut Laporkan Kasus Kematian Yosua karena Harus Lawan Jenderal Polisi

Tim Forensik

Keluarga Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J sempat ragu melaporkan kasus kematian Yosua ke polisi. Pihak keluarga sadar, jika kasus ini di proses secara hukum, mereka akan berhadapan langsung dengan para petinggi kepolisian. Perihal ini di ungkap oleh Kamaruddin Simanjuntak, kuasa hukum keluarga Yosua, yang memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang dengan terdakwa Richard Eliezer atau Bharada E di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Selasa (25/10/2022).

“Muncul lagi pertanyaan (dari keluarga Brigadir J), nanti bagaimana yang kita lawan ini kan institusi yang sangat besar, jenderal-jenderal, kata Pak Samuel Hutabarat (ayah Brigadir J) ” kata Kamaruddin mengingat percakapannya dengan keluarga Yosua. “Saya katakan, tidak perlu takut, cukup berdoa saja,” jawab Kamaruddin ketika itu.

Tak cuma itu, Kamaruddin mengungkap, keluarga Brigadir J sempat maju mundur melaporkan kasus ini karena khawatir akan biaya. Sebabnya, Samuel Hutabarat, ayah Brigadir J, tak lagi bekerja sejak pandemi Covid-19. Sementara, Rosti Simanjuntak, ibu Yosua, “hanya” guru SD di Jambi. Merespons itu, Kamaruddin pun berjanji akan menanggung biaya yang di perlukan dalam mengurus perkara ini. Pihak keluarga juga diberi pendampingan hukum secara cuma-cuma.

“Setelah itu sepakatlah mereka memberi kuasa kepada saya,” ujar Kamaruddin. Sejak awal mendengar kasus kematian Yosua, Kamaruddin mengaku sudah curiga. Dia tak percaya dengan narasi tembak menembak antara Yosua dengan Richard Eliezer.

Apalagi, dalam proses penyidikan kasus ini tak di lakukan uji balistik. Bahkan, tak di pasang garis polisi di tempat kejadian perkara (TKP) di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan. Menurut Kamaruddin, narasi yang menyebut bahwa baku tembak di picu oleh pelecehan yang di lakukan Yosua terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, juga terkesan janggal.

Baca Juga  Obat Alami Asam Lambung Dari Bahan Rempah Tradisional

Kematian Brigadir J Buat 1 ART Ferdy Sambo Ketakutan dan Mundur

Tim Forensik

Mantan ajudan Ferdy Sambo, Daden Miftahul Haq, dalam persidangan menyatakan ada seorang asisten rumah tangga (ART) yang mengundurkan diri (resign) karena ketakutan setelah peristiwa pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J). Hal itu di sampaikan Daden dalam persidangan 2 terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir J, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (8/11/2022).

Keterangan yang di sampaikan Daden menjawab pertanyaan tim jaksa penuntut umum (JPU). Mulanya JPU bertanya kepada Daden siapa saja yang menghuni rumah di Jalan Saguling. Daden lantas menjawab yang menghuni rumah di Jalan Saguling adalah Sambo, Putri, beserta anak-anak mereka. Selain itu, kata Daden, sejumlah ajudan seperti mendiang Yosua serta 3 asisten rumah tangga juga tinggal di rumah itu. Jaksa kemudian bertanya kepada Daden apakah dia mengenal 3 ART Sambo dan Putri.

“Kenal Bu. Susi, Bi Jiah, terus ada yang sudah resign, sama Surtini,” kata Daden. Jaksa lantas bertanya kapan seorang ART itu mengundurkan diri. “Itu seingat saya pas sudah pemeriksaan di Bareskrim, Ibu,” ujar Daden. Jaksa kemudian terus bertanya kepada Daden mengapa ART Sambo dan Putri itu mengundurkan diri.

Sidang Ferdy Sambo dan Putri CandRawathi, Jaksa Hadirkan ART Susi dan Kodir

Jaksa penuntut umum (JPU) bakal menghadirkan 13 orang saksi dalam sidang kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang di lakukan Ferdy Sambo, dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri CandRawathi pada Selasa (8/11/2022). Kuasa hukum Ferdy dan Putri, Arman Hanis mengatakan, belasan orang yang bakal bersaksi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan itu merupakan saksi yang pernah memberikan keterangan pada sidang Richard Eliezer pada Senin (31/10/2022).

Mereka terdiri asisten rumah tangga (ART) di rumah Ferdy Sambo yang berada di jalan Saguling, Duren Tiga dan Bangka serta ajudan dan sopir mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri itu. “Di sampaikan jaksa penuntut umum sama seperti sidang Richard.

Baca Juga  Pria di Bogor Kedapatan Bawa Pisau-Sabu

Merujuk pada saksi yang di hadirkan jaksa pada sidang Bharada E, maka hari ini Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi bakal mendengar keterangan dari saksi yang merupakan ART di rumah Saguling bernama Susi, Sartini, dan Rojiah. Selain itu, ada juga security atau petugas kemanan di rumah Saguling bernama Damianus Laba Kobam atau Damson.

Kemudian, saksi yang berasal dari rumah Sambo yang berada di Jalan Bangka adalah ART bernama Abdul Somad dan petugas keamanan di rumah itu bernama Alfonsius Dua Lurang. Lebih lanjut, saksi yang bekerja di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, yakni ART bernama Daryanto atau Kodir dan sekuriti kompleks bernama Marjuki.

Dalam kasus ini, Sambo dan Putri di dakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J bersama dengan Richard Eliezer, Ricky Rizal, dan Kuat Ma\’ruf. “Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja, dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,” papar jaksa saat membacakan dakwaan Eliezer di PN Jakarta Selatan, Selasa (18/10/2022).

Jaksa Membacakan Dakwaan ElizeR Di Jakarta

Dalam dakwaan di sebutkan, Eliezer menembak Brigadir J atas perintah mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan . Peristiwa pembunuhan Yosua di sebut terjadi akibat cerita sepihak istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi yang mengaku di lecehkan . Kemudian, Ferdy Sambo marah dan merencanakan pembunuhan terhadap Yosua yang melibatkan Richard, Ricky, dan Kuat. Brigadir J pun tewas di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli 2022.

Atas peristiwa tersebut, Eliezer, Sambo, Putri, Ricky dan Kuat di dakwa melanggar Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 56 ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Kelimanya terancam pidana maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun. Khusus Sambo, jaksa juga mendakwa eks Kadiv Propam itu terlibat obstruction of justice atau perintangan proses penyidikan pengusutan kasus kematian Brigadir J. Ia di jerat dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 subsider Pasal 48 Ayat (1) juncto Pasal 32 Ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 Ayat (1) ke 2 juncto Pasal 55 KUHP.